Program Doktor Ilmu Lingkungan Hasilkan Lulusan Pertama


Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Pascasarjana Universitas Udayana melaksanakan Ujian Akhir Tahap II (Ujian Terbuka) Mahasiswa atas nama I Nyoman Sudipa, pada Hari Jumat 17 Juli 2020. Sudipa merupakan Mahasiswa PDIL Angkatan 2017/2018 yang menjadi lulusan pertama dari PDIL. Ujian Terbuka dimpimpin oleh Direktur Pascasarjana Prof. Dr. dr. I Putu Gede Adiatmika, M.Kes. Bertindak sebagai tim penyanggah antara lain Prof. Dr. Ir. Made Sudiana Mahendra, M.App.Sc, Prof. Dr. Ir. I Wayan Sandi Adnyana, M.S, Dr. Drs. Ida Bagus Gde Pujaastawa, M.A, Prof.Dr.Ir.I Wayan Arthana,M.S, Ir. Ida Ayu Astarini, M.Sc. Ph.D, Prof.Dr.Ir. Syamsul Alam Paturusi, MSP, Prof. I Nyoman Darma Putra, M.Litt, Prof. Dr. Ir. I Wayan Windia, S.U, Prof.Dr.Ir. I Wayan Suarna,M.S, dan  Prof. Dr. Drs. I Wayan Budiarsa Suyasa,M.Si. 

Sementara itu undangan akademik terdiri dari lima orang doktor bidang terkait yakni Dr. Ir. I Made Sudarma, M.S, Dr. Ir. I Wayan Diara, M.S, Dr. Ir. I Made Adhika, MSP, Dra. Ni Luh Watiniasih, M.Sc., Ph.D, dan Dr. Drs. Nyoman Wardi, M.Si. Ujian berlangsung dengan lancar, dimana masing-masing penyanggah dan undangan akademik menyampaikan pertanyaan ataupun sarannya untuk Sudipa. Promovendus menyampaikan paparan Disertasinya yang berjudul Pengelolaan Lingkungan di Kawasan Pariwisata Nusa Penida, Bali. 

Pertumbuhan pariwisata mempengaruhi daya dukung lingkungan khususnya daya dukung lahan dan air dan menimbulkan alih fungsi lahan yang akan mengurangi ketersediaan lahan pertanian. Pariwisata juga menimbulkan dampak penurunan kualitas sumber daya air serta mempengaruhi kondisi sosial budaya masyarakat Nusa Penida. Untuk merumuskan sistem pengelolaan lingkungan perlu melibatkan pemangku kepentingan terkait secara partispatif. Penelitian ini difokuskan pada : (1) bagaimana daya dukung lahan dan air di Nusa Penida setelah perkembangan pariwisata, (2) bagaimana dampak kegiatan pariwisata terhadap kondisi lingkungan hidup di  Kawasan Pariwisata Nusa Penida, dan (3) bagaimana rumusan model pengelolaan lingkungan di Kawasan Pariwisata Nusa Penida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status daya dukung lahan di Nusa Penida defisit. Pada tahun 2018 defisit sebesar 14.848,3 ha dan tahun 2028 diprediksi defisit sebesar 19.177,3 ha. Status daya dukung lahan di Nusa Penida berdasarkan jejak ekologis defisit sebesar 12.261,58 ha. Status daya dukung air di Nusa Penida surplus baik yang bersumber dari curah hujan, 10% pemanfaatan mata air (Mata Air Penida+Guyangan), curah hujan+10% pemanfaatan mata air (Mata Air Penida+Guyangan) dan curah hujan+ seluruh potensi mata air di Nusa Penida yang diproyeksikan dari tahun 2018 sampai diprediksi tahun 2028. Alih fungsi lahan di Nusa Penida dari tahun 2003 sampai tahun 2019 mencapai 164,84 ha atau laju alih fungsi lahan di Nusa Penida sebesar 0,85%. Hasil analisis kualitas air menunjukkan bahwa kualitas air sumur, mata air dan air laut hasil uji sampel tahun 2019 secara kualitas relatif lebih baik dibandingkan dengan tahun 1998 berdasarkan Peraturan Gubernur Bali No. 16 Tahun 2016.  Dampak sosial budaya meliputi (1) penggerusan nilai lingkungan sosial budaya, (2) memudarnya ruang-ruang sosial masyarakat, (3) menyempitnya ruang budaya dan relegi, (4) konflik sosial, dan (5) menurunnya nilai-nilai budaya. Model pengelolaan lingkungan di Kawasan Pariwisata Nusa Penida dibentuk berdasarkan inisiatif pemerintah dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Daya dukung lahan dan air di wilayah sempit dan kering menggunakan pendekatan dan analisis data primer untuk jenis komoditas dan komoditas untuk jejak ekologis. Penelitian ini menggunakan metode dan analisis yang komprehensif yang diramu sebagai model pengelolaan lingkungan secara partisipatif (DK).